1704 Idealisme Agama

من لم يذق مرّ التعلّم ساعة # تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
و من فاته التعليم وقت شبابه # فكبّر عليه أربعا لوفاته
ذات الفتى و الله بالعلم و التقى # و إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته
“Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat, maka ia akan menahan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya, maka bertakbirlah empat kali atas kematiannya
Eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya.”
(Muhammad Bin Idris Asy Syafi’i)

Perjalanan menuntut ilmu adalah proses panjang yang membutuhkan ketahanan mental. Tidak sedikit santri atau para penuntut ilmu yang berguguran, bahkan sebelum memanen hasil. Alasannya beragam, mulai dari kegagalan dalam melawan rasa bosan, asing dengan lingkungan sekolah atau pesantren, masalah dengan guru atau teman, pelajaran yang sulit, atau bahkan alasan-alasan lain yang terkadang sulit untuk dikompromikan.

Miris, dunia Pendidikan generasi zaman ini diguncang oleh 2 krisis akut; sabar dan konsisten. Padahal, dua modal ini bisa membawa siapapun pada puncak kesuksesan. Allah SWT berfirman,
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 
Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Dalam surat yang lain, Allah SWT berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

Sebetulnya, pada diri santri yang mondok sudah Allah sematkan kemuliaan karena telah memenuhi 3 kriteria istimewa; beriman, berhijrah (dari rumah masing-masing), dan berjihad di jalan Allah dalam bentuk menuntut ilmu (agama).
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih agung derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taubah: 20)

Sayangnya, tidak banyak yang menyadari janji Allah ini. Fenomena yang terjadi bahkan sebaliknya; alih-alih memenuhi kebutuhan ruhiyah bathiniyah, pada umumnya generasi saat ini malah memenuhi kebutuhan fisik hedonik yang tidak pernah ada habisnya; kenyamanan hidup, kesenangan sesaat, dan kepuasan emosional; tidak mau hidup susah; tidak mau berlelah-lelah; dan enggan memulai segala sesuatu dari tahap paling bahwah. Semua berlomba-lomba ingin mendapatkan kesuksesan secara instan, tanpa mau menaiki undakan demi undakan anak tangga dengan sabar dan konsisten. Padahal, pemenuhan kebutuhan manusia yang hanya berfokus pada pemuasan fisik menurunkan kemampuan kontrol diri dan penilaian logis. Secara keseluruhan, pemuasan kebutuhan fisik hedonik yang tidak pernah habis akan membawa seseorang ke dalam siklus kecanduan yang merusak kesehatan mental. Dan mirisnya, pola ini sudah merangsek ke dalam kehidupan anak-anak generasi sekarang.

Hari ini hampir bisa dikatakan, tidak ada lagi yang disebut dengan idealisme agama. Dimana hakikat kebenaran bersumber pada gagasan spiritual, bukan materi. Dalam idealisme agama, tujuan hidup yang hakiki adalah kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya, bukan pemenuhan hawa nafsu diri; menuruti keinginan jiwa yang cenderung pada kesenangan duniawi, kemaksiatan, atau ego yang berlebihan tanpa kontrol moral. Dalam idealisme agama, pengembangan potensi diri; baik secara spiritual, intelektual, maupun moral, sangatlah penting, dan semuanya terangkum apik dalam satu proses utuh: BELAJAR. Tapi proses belajar tidak akan pernah terwujud tanpa sabar dan konsisten.

Maka sekali lagi, beruntunglah mereka yang masih bertahan dalam idealisme agama-nya; bertahan untuk satu keyakinan yang nyata. Pada umumnya mereka tidak banyak bersedih dengan hiruk pikuk dunia yang terus berlomba untuk memenangkan piala bergilir, yang itupun hanya sebatas fatamorgana. Karena mereka yakin, selain sementara, dunia ini juga menipu; semakin keras dikejar, semakin lelah semuanya terasa. Dan pada akhirnya semua hanya akan berujung pada kesia-siaan.

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani: kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Maka, berlelah-lelah dalam urusan akhirat menjadi tujuan yang realistis; jelas dan pasti. Tidak perlu resah dan gundah hanya karena takut akan kehidupan dunia, cukup mengambil dunia sedikit saja, itupun demi bisa berdiri dalam memenuhi kewajiban terhadap Sang Maha Pencipta. Yakin, bahwa hanya mereka yang mau memperjuangkan akheratnya, dan yakin dengan itu yang akan Allah angkat derajatnya. Allah SWT berfirman,
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٣٩
Artinya: “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imron: 139)

Dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imron: 110)

Maka berbahagialah ketika kita menjadi bagian yang tidak pernah absen dalam memperjuangkan idealisme agama. Wallahu ‘Alam

(Diintisarikan dari Nasehat dan Arahan Pengasuh Pondok Pesantren Bayt al Hanan: KH. Abdillah Obid, Lc, pada pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar, 04 April 2026)


Kembali